MEMPERKENALKAN
CARA BELAJAR AKTIF SISWA

NURUL KARTIKA MAHIRAWATI, S.Pd
NIP 19630519 200604 2 002
SMK NEGERI 1 SUKORAMBI JEMBER
Jl.Brawijaya 55 Jember
Pengesahan
MEMPERKENALKAN CARA BELAJAR AKTIF SISWA
Oleh :
NURUL
KARTIKA MAHIRAWATI, S.Pd
NIP 19630519 200604 2 002
Disahkan :
Di
Jember,
Kepala
SMK
Negeri 1 Sukorambi Jember,
Drs. Bambang Irianto,
M.Si
NIP
131472724
KATA PENGANTAR
Dengan
tersusunnya karya tulis yang berbentuk makalah hasil pengamatan, penulis memanjatkan
syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya,serta memberi pencerahan dalam mencari dan menemukan ide dalam
penulisan makalah dengan judul “MEMPERKENALKAN
CARA BELAJAR AKTIF SISWA”
Penyusunan karya tulis ini dimaksudkan untuk meningkatkan
cara belajar kepada anak didik dalam dunia pendidikan
Dengan tersusunnya karya tulis ini, penulis menyampaikan
terima kasih yang tidak terhingga kepada rekan guru/ karyawan yang telah
membantu sehingga dapat terselesaikan karya ilmiah ini.
Untuk itu penulis hanya bisa berdoa mudah-mudahkan amal
baik Bapak/ Ibu mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Akhirnya jika
ada kesalahan dan kekurangan penulis secara terbuka akan menerima saran dan
kritik yang membangun demi sempurnanya makalah ini sehingga dapat bermanfaat
kepada semua pihak. Amin
Penulis,
DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN
JUDUL................................................................................................................. i
HALAMAN
PENGESAHAN................................................................................................. ii
KATA
PENGANTAR............................................................................................................ iii
DAFTAR
ISI........................................................................................................................... iv
BAB
I PENDAHULUAN..................................................................................................
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. ................
1,3 Tujuan .........................................................................................................
1.4 Manfaat Karya Tulis .................................................................
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................
2.1 ................
2.2 ................
2.3
BAB
III METODE PENULISAN .....................................................................
3.1
3.2
3.3
BAB
IV PEMBAHASAN ..................................................................................
4.1
4.2
4.3
BAB
V PENUTUP ...........................................................................................
5.1 SIMPULAN ................................................................................
5.2 SARAN .......................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi, pendidikan memegang peranan yang sangat penting, hal
ini dikarenakan potensi sumber daya manusia sangat terkait dengan ilmu
pengetahuan. Melalui pendidikan diharapkan tercipta manusia-manusia yang mampu
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan bangsa.
Perkembangan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi tidak akan pernah lepas dari
pendidikan. Semakin maju pendidikan, maka semakin maju pula ilmu pengetahuan. Untuk
meningkatkan mutu pendidikan, ada banyak cara yang dapat dilakukan. Pendidikan
dapat ditingkatkan dengan peningkatan kualitas dan peningkatan kuantititas.
Namun, peningkatan mutu pendidikan yang terbaik adalah penggabungan dari semua
jenis cara peningkatan mutu. Jadi, pendidikan
secara kualitas maupun kuantitas dapat diakui kredibilitasnya.
Salah satu cara peningkatan kualitas
pendidkan adalah cara belajar siswa dan cara mengajar guru. Kedua hal tersebut
sangat penting dan berdampak langsung dalam kualitas pendidikan. Jika keduanya
buruk, besar kemungkinan kualitas pendidikannya juga buruk. Namun, jika
keduanya baik, maka besar kemungkinan kualitas pendidikannya juga baik.
Seorang guru yang profesional
dituntut untuk dapat menampilkan keahlian di depan kelas. Salah satu komponen
keahlian itu adalah kemampuan untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk
dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efesien, guru perlu
menyampaikan cara belajar aktif siswa dalam belajar. Secara berturut-turut,
guru dapat menyampaikan cara belajar aktif siswa di antaranya dengan cara,
dimensi subyek didik, dimensi guru, dimensi program, dan dimensi simulasi
belajar.
Belajar memerlukan keterlibatan
mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuat
hasil belajar yang langgeng. Hal yang dapat membuat hasil belajar yang langgeng
hanyalah kegiatan belajar aktif.
Menurut Silberman (2004,15)
dijelaskan bahwa “ yang saya dengar, saya lupa. Yang saya denga dan lihat, saya
sedikit ingat. Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan
orang lain, saya mulai paham. Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan
terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada
orang lain, saya kuasai.”
Apa yang menjadikan pembelajaran
menjadi aktif ? Agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak
tugas, mereka harus menggunakan otak....mengkaji gagasan, memecahkan masalah,
dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit,
menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan
tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
masalah yang dapat diangkat dalam penelitian. Kapan kegiatan belajar perlu
dibuat aktif? Untuk bisa mempelajari suatu dengan baik, kita perlu
mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentangnya dan membahasnya
dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu juga mengerjakannya yakni
menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya,
mencoba mempraktikkan keterampilan, dan mengerjakan tugasnya yang menuntut
pengetahuan yang telah mereka dapatkan
Kita mengetahui bahwa siswa bisa
belajar dengan sangat baik dengan mempraktikkannya. Namun, bagaimana caranya
kita menggalakkan belajar aktif ?
1) Bagaimana
menjadi Siswa Aktif sejak awal
2) Bagaimana
membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif
3) Bagaimana
menjadi belajar tidak terlupakan
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan ini
adalah sebagai berikut :
·
Untuk menguraikan pengaruh cara belajar aktif
terhadap proses kembang siswa.
·
Untuk mendalami pentingnya cara belajar yang
baik dan benar pada siswa.
·
Untuk mengulas peran Cara Belajar Aktif Siswa
sebagai media pengenalan gaya belajar pada siswa.
1.4 Manfaat Karya Tulis
1)
Bagi penulis pengamatan merupakan pengalaman
yang sangat berharga dalam rangka pengembangan cara belajar di bidang
pendidikan.
2)
Mengenalkan cara belajar aktif kepada siswa
melalui metode belajar yang benar
3)
Diharapkan bagi para pelajar untuk dapat
mengetahui dan mengaplikasikan cara belajar aktif.
4)
5)
Dapat menambah wawasan para pengajar dalam
memberi informasi cara belajar pada siswa
6)
Hasil pengamatan dapat menjadi tambahan
informasi dalam perkembangan cara belajar manusia dalam kehidupannya di bidang
pendidikan
7)
Menanamkan kebiasaan gaya belajar aktif pada siswa
dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
8)
Meningkatkan taraf pendidikan anak Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PARADIGMA PENDIDIKAN
Pendidikan
adalah hal yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia,
pendidikan sangat berperan penting dalam menentukan arah perkembangan manusia.
Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula pola pikir manusia.
Dan, pola pikir manusia sangat berkaitan dengan maju mundurnya peradaban
manusia atau zaman. Kita bisa
membandingkan antara pola pikir manusia zaman purba, zaman kerajaan
yunani-romawi, sampai zaman sekarang. Kemajuan zaman tersebut merupakan dampak
positif dari semakin diperhatiknnya pendidikan dalam kehidupan umat manusia.
Seringkali
orang-orang berpendidikan dalam suatu bangsa dapat merubah nasib bangsa
tersebut menuju yang lebih baik. Dapat kita lihat contoh-contoh nyata
pahlawan-pahlawan dunia yang telah merubah kehidupan kita menjadi lebih baik,
beliau-beliau seperti Sir Issac Newton
sebagai penemu garavitasi yang menjadi dasar dalam semua hal yang berhubungan
melayang, Thomas Alfa Edilson yang menemukan lampu yang telah membuat hidup
kita menjadi lebih terang, James Watt yang dengan mesin uapnya telah membuat
kita dapat mengerjakan semua hal dengan cepat dan hasilnya memuaskan dengan
mesin, dll.
Pendidikan
sangat berkaitan dengan belajar. Bukanlah suatu pendidikan jika tidak disertai
belajar. Pendidikan berkaitan erat dengan ilmu formal yang bersifat pasti yang
dikuasaia oleh seseorang, sedangkan belajar adalah suatu proses untuk memahami
ilmu, dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya tidak bisa
menjadi bisa, yang awalnya tidak paham menjadi paham, yang awalnya bisa menjadi
ahli, yang awalnya ahli menjadi bisa mengajarkan
Mayoritas
orang di dunia ini hidup dari pendidikan yang ia tempuh, tetapi tidak menutup
kemungkinan juga bahwa orang yang tidak berpendidikan dapat berhasil dan
sukses. Hal itu terjadi karena orang tersebut mau bekerja keras dan mau belajar
untuk menjadi lebih baik. Jika orang-orang yang nasibnya kurang beruntung di
bidang pendidikan bisa berhasil, mengapa kita yang berpendidikan cukup dan
bahkan lebih tidak bisa sukses dan berhasil seperti mereka?
2.2 PROSES BELAJAR
Belajar
merupakan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari
pengalaman secara praktis dan diasosiasikan sebagai proses memperoleh informasi
(Japardi, 2002). Informasi ini disimpan dalam memory ingatan. Belajar merupakan
proses memasukkan informasi, menyimpannya, dan mengeluarkannya. Informasi yang
diperoleh berupa stimulus-stimulus seperti tulisan, gambar, gerakan, tindakan,
atau suara. Stimulus tersebut diterima oleh panca indra, diteruskan oleh saraf
ke otak sebagai pusat pikiran.
Otak manusia adalah jaringan lunak yang beratnya sekitar
0,5 kilogram. Otak manusia berisi sekitar 100 miliar sel yang memiliki fungsi
kompleks sebagai pusat pengendali seluruh aktivitas manusia (Putri, 2006).
Mulai dari menerima sinyal-sinyal dari berbagai sensor panca indra, sampai pada
proses pemahaman, analisa, membuat keputusan, dan kemudian melakukan gerakan
motorik. Otak juga menjadi pusat bahasa. Mulai dari memori perbendaharaan kata,
pemahaman, sampai pada proses verbalnya. Pusat bahasa ini menempati wilayah yang
sangat luas di otak manusia. Selain itu otak juga mengendalikan fungsi-fungsi
yang berkaitan dengan emosi, seperti rasa senang, bahagia, sedih, menderita,
benci dan kasih sayang. Kemudian stimulus yang masuk dipersepsikan.
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar,
seorang guru dituntut untuk mempersiapkan diri dengan membuat suatu perencanaan
pengajaran yang dinilai dari perumusan tujuan pengajaran. Bertitik tolak dari
tujuan itulah, guru menentukan langkah-langkah berhubungan yang merupakan suatu
rentetan kegiatan yang harus dilaluinya dalam peristiwa belajar mengajar yang
akan dilaksanakan. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, ia harus
memikirkan pendekatan dan cara belajar akatif siswa.
Mengajarkan
bukan semata persoalan menceritakan! Belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari
penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan
mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan
membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar
langgeng hanylah kegiatan belajar aktif.
Kapan
kegiatan belajar perlu dibuat aktif? Untuk bisa mempelajari suatu dengan baik,
kita perlu mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentangnya dan
membahasnya dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu juga mengerjakannya
yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya,
mencoba mempraktikkan keterampilan, dan mengerjakan tugasnya yang menuntut
pengetahuan yang telah mereka dapatkan.
Dalam
dunia pendidikan pra sekolah dan pendidikan dasar, guru telah mempraktikkan
belajar aktif. Mereka tahu bahwa anak-anak bisa belajar dengan sagat baik dari
pengalaman konkret. Bahkan para guru yang tidak begitu paham tentang fakta
perkembangan anak pun menjadikan belajar sebagai kegiatan aktif.
Terdapat
perbedaan antara pendidikan dasar dengan pendidikan lanjutan. Pada pendidikan
dasar, anak-anak tidak bisa berlama-lama untuk memusatkan pikiran dan mereka
juga tidak bisa berlama-lama untuk duduk tenang. Karena faktor inilah para
pengajar dapat mengaplikasikan belajar aktif sebagai metode belajar dan solusi
untuk mengatasi kebiasan anak-anak.
Berbeda dengan pendidikan pada tingkat lanjutan. Pada pendidikan lanjutan,
siswa yang lebih tua memiliki kecenderungan untuk tidak lagi belajar dengan
aktif. Komitmen terhadap kegiatan belajar aktif dan semarak,contoh menyertakan
permainan dan berdiskusi, sifatnya hanya jangka pendek.
Barangkali
anda dapat menemukan banyak alasannya. Sebagai contoh, guru cenderung
mengajarkan sesuatu sebagaiman sesuatu itu dulunya diajarkan kepadanya, dan
model pengajaran ceramah dan menulis merupakan model yang umum bagi kita. Di
luar itu, ada asumsi keliru bahwa peserta didik dewasa tidak memerlukan
aktivitas yang diperpadat dan proses yang dipercepat untuk bisa belajar secara
efektif. Lantaran pikiran yang telah berkembang mampu melakukan perenungan,
mengemukakan sudut pandang, dan berfikir abstrak, sebagian guru lantas
berasumsibahwa siswa yang lebih tua benar-benar bisa belajar ketika mereka hanya
duduk manis mendengarkan ceramah. Anggapan ini biasanya sangat kuat sekalipun
sang guru kecewa dengan seberapa banyak yang diingat dan betapa sedikitnya yang diterapkan.
Hal
lain yang dapat menyebabkan kurang aktifnya kegiatan belajar ketika siswa
beranjak dewasa ialah bahwa guru merasa terikat oleh mata pelajaran mereka dan
tertekan oleh terbatasnya waktu yang mereka miliki untuk mengajarkannya.
Gagasan bahwa kegiatan belajar harus terbagi-bagi ke dalam berbagai bidang
pelajaran yang sudah ada selama berabad-abad dan sepertinya tidak mudah
dihapuskan. Namun, masih sulit untuk menyakinkan para pelaku pendidikan dan
wali murid bahwa siswa tiidak akan mendapatkan banyak manfaat jika mereka
“sekedar menempuh” mata pelajaran. Selain itu, ada kenyakinan bahwa belajar
aktif menyita terlalu banyak waktu secara teori. Hal itu mungkin menyakinkan,
namun secara praktek hal itu tidak realistis.
Tiadanya
saran konkret yang cukup memadai tentang cara penerapnya di kelas adalah
kemungkinan alasan paling kuat mengapa belajar aktif tidak menjadi ciri utama
persekolahan bagi siswa remaja dan dewasa.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Jenis Penulisan
Dengan
ide awal pengenalan gaya belajar yang baik dan benar kepada masyrakat khususnya
siswa melalui cara belajar aktif, makalah ini menggunakan jenis penulisan studi
kepustakaan. Penulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peran Cara
Belajar Aktif Siswa (Active Learning) sebagai media pengenalan gaya belajar
yang baik dan benar kepada masyrakat khususnya siswa.
3.2 Fokus
Penulisan
Fokus
penulisan bertujuan untuk membatasi ruang lingkup pembahasan agar
terkonsentrasi. Adapun fokus dalam penulisan ini adalah :
- Menguraikan
pengaruh cara belajar aktif terhadap proses belajar pada siswa.
- Mendalami
pentingnya cara belajar yang baik dan benar.
- Mengulas
peran Cara Belajar Aktif Siswa (Active Learning) sebagai media pengenalan
gaya belajar yang baik dan benar kepada masyrakat khususnya siswa.
- 3.3
Kerangka Konseptual
|
||||||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||||||
3.4 Sumber Data
Sumber
data penulisan karya tulis ini adalah data sekunder. Adapun data sekunder yang
digunakan dalam penulisan ini bersumber dari literatur buku dan situs internet
yang relevan dengan obyek penulisan.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan pada penulisan ini adalah dokumentasi, yaitu
mengumpulkan data dari literatur buku dan situs internet yang relevan dengan
obyek penulisan.
3.6 Analisis Data
Data
yang diperoleh dianalisis dengan analisis data sekunder. Data yang sudah
dikumpulkan dari berbagai sumber, kemudian diseleksi dan diklasifikasikan
menurut fokus penulisan, sehingga mampu menjelaskan dan menjawab permasalahan.


